Social Icons

Featured Posts

Wednesday, August 17, 2011

Pertemuan yang Belum Bisa Kumaknai (Part II)

Aku sedikit melangkah lebih cepat kearah tigaanak muda yang sedang menungguku disana, tepat di depan pintu kaca itu. Mereka berbaris laksana pagar ayu yang sedang menyambut tamu terhormat yang datang dari ibu kota. Senyuman yang tersungnging di setiap wajah yang ku pandang itu--adalah senyuman yang selalu menghiasi hari-hariku sebelumnya. Wajah pertama yang menyambutku adalah seorang lelaki berwajah tampan, ia selalu bangga memamerkan kawat giginya di setiap helai senyumannya. Kujabat tanggannya dengan kuat, sambil kutanyakan "Are you ok..???"--"yes, I'am Ok...Thanks" dia menjawabnya dengan singkat. Kini aku beralih kepada seorang wanita yang berdiri di samping kirinya, "Haiii, Peu haba?"langsung ku sodorkannya sapaan akrab negeri ku tercinta. "Haba get" dia menjawabnya seakan-akan sudah lama disini. "Wow, it's so nice right...???" aku sambung lagi, karena aku tau dia hapal betul sapaan akrab itu. Dengan senyuman khasnya yang selalu mempertontonkan dua gigi kelincinya,dia membalas pujianku itu. Aku tak sabar menyapa sosok wanita yang berdiri dipaling kiri barisan itu. Tapi, kini tiba-tiba aku merasa ada sesuatu yang begoyang lebih cepat dalam tubuhku, tepat di dadaku, kudengar suara"dak dik duk" itu persis seperti kerata api zaman bahulak yang sedang mau berangkat. Pelan tapi pasti ketika mesin baru dihidupkan-- iramanya akan mulai berubah sedikit lebih cepat ketika masinis mulai menarik pedal gas yang ada didepanya -- semakin jauh pedal ditarik maka semakin kencang pula nada yang ditimbulkan lokomotif itu. Begitulah nasib mesin pemompa darahku kini, dia berdetak tidak karuan, tidak ada pedal yang ditarik, tidak pula bumi sedang bergetar, dia berdenyut semakin cepat seiring langkahku yang terakhir tepat dihapannya. Wajah manis yang selalu ceria kini tampak berduka menyambut kedatanganku, dia tidak berani menatapku. Tatapannya kini hanya ke arah lantai putih bangunan itu -- kulihat jari telunjuk tangan kanannya masih asik melingkari rambut halusmu itu. Aku tak tahu apa yang sedang engkau pikirkan?hatiku bertanya.

"Are you ok...???" aku pecahkan kesunyian itu walau dengan suara sedikit gugup. "yes..." seirama dengan sunggingan senyuman manis nan ayu itu, dia menjawab pertanyaanku. "ButI think, You look so sad today, why???" sambungku lagi, dia hanyamemandangku, tapi tak ada satu patah katapun keluar dari mulut manisnya itu. "She is not really want to leave here, She love your place.." tiba-tiba pria si pemakai kawat gigi itu menjawab pertanyaanku -- dia menyimak dan memperhatikan setiap pertanyaanku padanya dari tadi. "Oh ya... but you must back to your hometown..."sambil kualihkan padanganku kembali padanya. Lagi-lagi, hanya senyuman yang kudapatkan darinya. Walau hatiku belum mengerti apa yang dia rasakan, aku mulai merasa tenang, jantungku mulai berdenyut dengan normal, mungkin lokomotif sudah memasuki gerbang stasiun pertama yang dia jumpai setelah menempuh perjalanan satu jam tadi. Masinis mulai mengembalikan pedal gas itu ketempat semula --seiring roda-roda besi itu mulai mengendur putarannya.

Hanya berselang 5 menit setelah kami mengambil poto bersama untuk kesekian kalinya, sebuah pengunguman "Kepada seluruh tamu harap memasuki ruangan yang sudah disediakan..." datang tepat dari corong sebelah kanan pintu kaca itu. Itu artinya waktu kami untuk bertemu sudah habis. Kulirik ke kanan, ke arah sahabatku, dia sedang sibuk menerima berpelukan perpisahan dan salaman untuk terakhir kalinya dari kawan-kawannya itu. Kulihat kini mereka semua menuju ke arah kami berdiri, karena persis dibelakang kami berdiri adalah pintu masuk bagunan itu. Aku jabat tangan mereka satu persatu untuk terakhir kalinya, sambil tidak lupa kukatakan "We'llmiss you all...", mereka berlalu masuk ke dalam bangunan itu. Seiringan si pria dan wanita yang bersama dia tadi juga mengikuti jejak kawan-kawankuuntuk masuk ke dalam ruangan yang di batasi kaca hitam itu.

Aku menoleh kebelakang, dia masih tetap pada posisi semula, tidak ada tanda-tanda akan mengikuti jejak kawannya yang sudah berada didalam bagunan itu ."Oya, aku lupa, mungkin aku belum mengucapkan goodbye padanya" Aku balik posisi badanku yang dari tadi hanya menyampinginya. Badanku kini tepat didepanya, inilah saat yang aku tunggu-tunggu selama aku mengenalnya, saat dimana wajah ayunya itu hanya berjarak 50 cm dari hadapanku. Amboiii, dekat sekali....

Tiba-tiba hatiku galau lagi, sms yang dia kirimkan dua jam yang lalu kini mulai menerawang di setiap sel tubuhku, apa yang sebenarnya akan engkau berikan padaku? Apa yang kamu maksud "my ownthing as gift" itu? kenapa di akhir kalimat ada "you'll never forgetme"? aku bingung -- sungguh sebuah ironi yang membunuh seluruh karakterku. Apakah ini moment yang engkau tunggu-tunggu untuk memberikannya padaku? Tapi, tak kulihat tanda-tanda kamu membuka tas, atau mencari sesuatu dalam di saku bajumu untuk kau berikan padaku. Kamu hanya memandangku dengan sendu dari tadi. Kini pikiranku jauh melayang. Kalau bukan barang atau semacam sovenir, apa juga"as gift" yang ingin kau berikan padaku? batinku bertanya. Apakah engkau akan memberikan selain itu padaku? Atau... hatiku mulai menerka-nerka apa yang kamu maksud "you'll never forget me". Ataukah itu sebuah pelukan? atau sebuah ciuman.? "Oh, my god...!!!", Aku tidak bisa membayangkan kalau itu yang kamu maksud yang akan kau berikan padaku. Selama hidupku, aku belum pernah menerima kecupan ataupun pelukan dari seoarang wanita. Mungkin dulu waktu kecil aku pernah dicium dan dipeluk oleh keluarga, tetangga, dan sahabat-sahabat ibuku,tapi waktu itu aku belum mengenal akan dunia kecup mengecup dan peluk memeluk.

"Ya Allah jauhkan aku dari perbuatan ini, aku tak mau melanggar aturanMu itu" kini giliran imanku angkat bicara. Tapi, tahukah kalian, nafsuku jauh lebih bersemangat memompa bisa beracun dalam seluruh aliran darahku."Dia akan memberimu ciuman, jangan tunggu dia yang memulainya..!!! kamu harus duluan memulainya!!!" dia(nafsuku) tidak henti-hentinya membesitkan itu dalam relung hatiku. "Lihat matanya..!!! kamu hanya perlu membuka kedua tanganmu saja, maka dia akan tersungkur jatuh dalam pelukanmu" hujat nafsuku yang bejat itu. Kini aku hanya pasrah di depannya "aku akan menerima apa saja yang akan kau berikanpadaku" titah hati nuraniku, artinya nafsuku telah mampu mengalahkan imanku yang dhaif itu. Imanku tersungkur, aku tidak yakin dia akan bisa membuat hati nuraniku merubah keputusannya.

Tiba-tiba, tangan kananku bergerak dengan sendirinya tanpa ada aba-aba dari otak kiriku, dia bergerak seperti ada pendongkrak yang menekannya kuat dari bawah, aku tidak bisa menghalanginya.Pendongkrak ajaib itu membawa aku untuk menjulurkan tanganku tepat didepannya. Seper sekian detik sudah tanganku berada di depannya, tapi aku tidak melihat dia akan menerima salaman perpisahanku itu."I miss you so much..."itulah kata paling indah yang keluar dari mulutku waktu itu, yang membuatnya langsung menggenggam dengan erat tanganku itu. Dengan segera ku pandang kedua bola matanya itu, percikan sinaran bola matanya kini mengalir melewati selaput retinaku -- dan selanjutnya di teruskan kedalam urat-urat kecil dimana sekumpulan darah sedang menunggu yang akan membawanya ke dalam istana hatiku. Dengan seketika sinaran itu kini menjelma menjadi sekumpulan kata-kata yang masih kabur didalam batinku. Kucoba untuk mendekati lagi kata-kata itu, tapi sayang, rupanya dia menulisnya bahasa negerinya yang tidak pernah aku paham. Sungguh aku tak mengertiakan maksudmu itu. Aku harus belajar lagi tentang arti huruf-hurufmu itu...

Berlahan tapi pasti, aku mencoba merenggangkan eratan tangannya. Sebenarnya aku sangat menikmati moment ini, tapi sayang beribu sayang, pengunguman kedua dari corong yang sama datang lagi, membuatnya harus melepaskan lilitan tanganku yang besar itu. Dengan segera aku geser badanku 90 derajat kekiri, supaya apa yang aku pikirkan dari tadi tidak pernah terjadi. Rupanya gerakan cepatku tadi telah menyelamatkanku dari perbuatan yang tidak diridhoi oleh Allah, karena dia harus segera masuk ke dalam ruangan dan meninggalkan aku sendiri disini. Sambil berlari kecil dan melambaikan tangan, dia masih menyempatkan untuk melihatku di belakang. "Goodbye..."hanya itu yang terucap dari mulutku. Sambil kubalas lambaiyannya, aku terus memandanginya -- hingga sebuah tembok besar di dalam bangunan itu menghalangi pandanganku.

"Yok, kita balek..." sapa sahabatku yang dari tadi mengikuti moment yang membingungkan itu. "ok.."jawabku singkat. Kami berjalan ke parkiran yang ada di sebelah kiri gedungutama itu. Belum juga sampai kami di tampat sahabatku memarkir motornya, HPku yang dari tadi hanya bersemanyam dalam kantong jeanku, kini bergetar lagi. Rupanya ada 2 buah SMS yang masuk, kulihat salah satunya adalah dari nomornya. Seperti biasa tekan Unlock, lalu tombol *, open massage "It's very hard to say good bye, I just so quiet. I'll Miss you so much" itulah isi pesan singkatnya waktu itu. "I'll miss you so much too..." Aku membalasnyadengan singgab.

Kini aku berlalu dengan perasaan senang dan bahagia walaupun sesekali rasa penasaranku mendera, karena jujur aku belum bisa memaknai akan arti pertemuan ini. Aku tak tau kapan aku bisa mengerti akan semua ini?

Goodbye my BM...

Saturday, December 18, 2010

Pertemuan yang Belum Bisa Kumaknai (Part I)

Hari ini mentari bersinar terang, sengatan panasnya masih sangat terasa walau jam sudah menunjukkan pukul 2:45. Sambilku pandang langit yang jernih bagai hamparan permadani biru muda, sesekali kulirik jam clasic dalam Nokiaku yang tak jauh berada berada di samping mejaku.Perasaanku mulai cemas, ketika jemari-jemari penunjuk waktu itu sudah melewati batas janjiku untuk bertemu denganmu. "Maybe 2:45 I'll be there"itulah sepotong sms janji yang pernah kukirimkan ke HPmu satu jam yang lalu,Aku masih ingat balasan yang kamu kirimkan untukku 5 menit setelah itu"Okay. I should bring my own thing as gift for you so that you'll never forget me. hahaha..." dengan perasaan bersalah kucoba untuk membaca lagi sms yang kamu kirimkan itu, aku masih belum tau apa yang sebenarnya yang kamu maksud tapi aku merasa sangat bersalah karena sudah berjanji padamu. mmmm(^._.^)

Dalam perasaan gundah dan tak tau apa yang harus kulakukan, kucoba merenungi kejadian 3 hari yang lalu ketika kita sama-sama dalam perjalanan pulang. Aku tak tau apa yang kamu bicarakan dengan kawanmu waktu itu, sesekali kudegar kalian menyebutkan namaku. Aku hanya bisaber doa supaya apa yang kamu bicarakan itu adalah sisi baikku (he he he). Dengan mata yang tidak bisa kupejamkan setelah kutegak Capucino asli di caffee shop pinggir jalan tadi, aku menyimak beberapa pembicaraan panjangmu itu, bahasa alien negeri entahberantah yang kamu gunakan membuatku hanya bisa membesitkan dalam hati kecilku sendiri kalau bangsamu juga sama seperti bangsaku yang suka menggosib disepanjang perjalanan.

"Do you have girl friend?"tiba-tiba temanmu menyedor pertanyaan yang membuatku harus tersengir dengan senyuman yang tak karuan. "He He He He" itulah jawaban pertama yang bisa kuberikan, selanjutnya baru kuceritakan apa yang sebenarnya. Anggukan dan senyuman yang tersunging di wajahmu, bisa kupastikan kalian mengerti apa yang aku katakan. Selanjutnya sederetan pertanyaan menyangkut pribadiku tak luput kalian tanyakan padaku. ( ^ _ ^ )

Treeeeeeetttttt, treeetttttttttttt, treeeettttttttbunyi HPku yang tiba-tiba menyadarkanku dari lamunan yang sesaat itu. Dengan cepat aku gapai HP kesayangaku yang dari tadi masih tergeletak tak jauh dari mejaku. Rupanya, ada sebuah sms yang masuk, dengan segera kucoba untuk membukanya "Saya sudah masuk kedalam, mungkin kita dapat mencari waktu yang lain untuk bertemu" itulah kira-kira isi sms darimu. Aku merasa bagai disambar petir di siang bolong,bagaimana mungkin kita bisa bertemu lagi? Mungkin juga kita akan bertemu lagi tahun depan, tapi aku tidak yakin dengan hal itu. Dengan perasaan bersalah kucoba edit sms yang kamu kirimkan itu dan kuteruskan kepada sahabatku dengan tidak lupa kutambahkan beberapa kata lagi di bawahnya"Kalau kau bisa pergi, jemput aku di tempat biasa".

Dengan berharap cemas, aku menunggu balasan sms dari sahabat setiaku itu. Dia memang sahabat setiaku, sahabat yang selalu ada di dalam hari-hariku. Dia sangat paham akan perasaan yang sedang aku alami dan dia juga sangat mengerti apa saja yang sedang kupikirkan. Treeeetttt, kaliini HPku kembali berbunyi tapi aku tidak membiarkan dia berbunyi kedua dan ketiga kali lagi. Jari jempol kananku yang sudah siap dari tadi melaksanakan tugas dengan sempurna, tekan tombol unlock selanjutnya tombol * dan open massage. "Aku kesana sekarang, tunggu dibawah ya!", Ya Allah, aku bertakbir di dalam hatiku, Engkau menganugrahkanku banyak teman setia, tap ihanya yang satu ini yang sangat mengerti akan perasaanku. Terima kasih Ya Allah. Tanpa membuang waktu sedikitpun, segera ku raih helm dan switer kesayanganku yang sudah kupersiapkan sebelumnya, dengan singgap kuberlari keluar dan di depan sana dia sudah menungguku dengan senyuman khasnya.

Tidak banyak omongan yang kami perbincangkan selama perjalanan itu, aku terlalu sibuk dengan perasaanku sendiri, dia juga sibuk menelpon kawannya, mengabarkan bahwa dia harus keluar sebentar. Sebenarnya dia sedang sibuk dengankegiatannya, tapi masih menyempatkan diri hanya untuk menemaniku(Alhamdulillah,sekali lagi aku bersyukur memiliki kawan seperti dia).

Setelah menempuh perjalan sekitar 10menit(karena memang tidak terlalu jauh dari tempatku), kami tiba di tempat yang telah kujanjikan untuk bertemu dengannya. Segara aku mencarinya di deretan bangku panjang yang tersusun rapi di tempat itu, mungkin dia ada disitu."Mungkin di ujung sana" teriak sahabatku. Aku berlari kecil ke ujung sisi kiri bangunan megah itu, tapi aku tidak menemukannya. Aku hanya melihat beberapa bapak-bapak yang sedang nimbrung di cafe di salah satu sudut bagunan itu, sesekali mereka milirik ke kiri dan ke kanan mungkin mereka juga sedang menunggu seseorang.

Sudah semua sudut bagian luar bagunan megah itu aku periksa, aku juga tidak menemukanmu. "Mungkin dia sudah di dalam, coba telpon dulu", saran sahabatku. Dengan segera aku mencari nomornya dalam sekumpulan kontak di memory teleponku. Setelah kutemukan, tekan ok"Call". "Hey, where are you now?", tiba-tiba sebuah sapaan lembut menyambutku dari ujung sana. Aku tau itu adalah kamu. "I wait you in lobby now...", sepotong jawaban singkat dariku, setelah itu kudengarbunyi tuuutt tuutt tuuutt, kamu menutup telepon."Dia sudah di dalam dan akan kelua rsebentar lagi, kita tunggu disana saja..." sambil kutunjuk ke arah bangku kosong yang tepat berada di depan pintu utama gedung itu. Aku memilih duduk disebelah kiri sahabatku. Kali ini cara dudukku persis seperti gaya pelatih sepakbola yang sedang menunggu detik-detik terakhir pertandingan dimana marka 1-0 untuk tim asuhannya. Aku duduk persis di bagian paling depan bangku, mungkin hanya 1/3 dari lebarnya yang aku gunakan, kakiku kumiringkan seoptimal mungkin untuk mendapatkan kuda-kuda yang sempurna dan tanganku yang saling menggenggam kuletakkan di atas paha untuk menompang tubuhku yang kucondongkan tiga puluh derajat kedepan. Tatapan mataku hanya terfokus ke satu titik saja yaitu pintu kaca gedung itu. Perfect, itu yang mungkin aku pikirkan tentang gaya duduk ku itu, gaya yang siap menyambut apapun kejadian yang akan terjadi.

Tiba-tiba mata ku berhenti pada dua bayangan anak manusia di dalam gedung itu, mereka melambaikan tangan ke arah aku. Aku dan sahabatku langsung berdiri,seperti sudah kuduga sahabatku kalah cepat berdiri dengan aku, karena pengaruh gaya duduk yang aku praktekkkan tadi(ha ha ha). Mataku hanya terfokus pada bayangan wanita itu, aku sama sekali tidak berminat untuk memandang bayangan pria yang berdiri di sampingnya. Dalam keremangan aku mulai mereka-reka kalau itu bukan kamu. Tubuhnya terlihat sedikit agak bongsor dengan gaya rambut yang dipotong poni, itu sama sekali bukan kamu yang ku kenal 8 hari yang lalu. Kamu yang kukenal adalah sosok gadis yang memiki tubuh mungil dengan rambut panjang lurus sedada. Aku masih ingat setiap ada kesempatan, kamu selalu menyisir rambut lembutmu itu dengan sepuluhjari-jari tanganmu, amboiiii...Indah sekali. "Itu mereka...",tiba-tiba sahabatku berteriak. Oh tuhan, aku lupa...kalau semalam aku juga berjanji untuk menemui mereka di tempat yang sama untuk menemui dia. Mereka kawanaku, kawan sahabatku juga. Kenapa aku lupa mereka? padahal semalam aku bersama mereka di penginapannya. Kami bermain kartu sampai larut malam, ketawa sambil memukul-mukul bantal jika ada diantara kami yang kalah dalam bermain. Sungguh suatu moment yang tidak bisa aku lupakan. Tapi, kenapa hari ini aku melupakan mereka? Mungkin aura untuk bertemu dengan dia sudah memenuhi setiap relungingatanku.

Kini sepasang bayangan yang aku liat tadi telah berubah menjadi manusia beneran yang kini berdiri persis di depan kami."Hey, my freind..." dengan gaya kerbarat-baratan yang dibuat-buat, si pria itu memanggil kami. Dia anak yang sangat periang, dia lebih muda lima tahun dari aku. Menurut aku dia sangat jenaka tapi dia penyuka bad word dalam bahasa negerinya. Di setiap ada kesempatan dia pasti mengajariku akan beberapa bad word dalam bahasa aliennya. Mulai dari kata yang remeh temeh, sampai dengan kata yang bisa membuat orang benci tujuh turunan jika diucapkan. Itulah dia,dia akan tebahak-bahak ketika aku dan sahabatku mempraktekkan setiap kata yang dia ajaran, sungguh anak muda yang aneh(heheh). Dia langsung menuju ke arahku dengan gerakan tangannya siap menerkam tubuhku. Aku tau dia ingin memelukku untuk terakhir kalinya dalam kesempatan ini. Segera aku sambut pelukan hangatnya persahaban itu. Kulirik sahabatku yang berdiri disampingku, dia sedang berjabat tangan dengan si wanita yang ikut tadi.

Belum sempat kutanyakan "Where others..." tiba-tiba "Hellooooooooooo...." suatu suara serempak datang memberondong kami dari arah pintu masuk bagunan itu. Suara lima orang anak muda-mudi itu seperti gemuruh angin di musim kemarau yang mengejutkan kami. "Helloooo" kami ikut menyambut kedatangan mereka. Mereka juga kawan kami, mereka satu tim dengan sipria dan wanita yang tadi kami jumpai. Sambil kujabat tangan mereka satu persatu, mataku tetap dengan cermat mengeja setiap wajah yang keluar dari pintu kaca itu, dengan berharap kamu juga ikot bersama mereka untuk menemuiku disini.Tapi sayang aku tidak menemukanmu dalam keramain itu.

Dalam kecerian, haru dan senda tawa dengan mereka, hatiku merasa gelisah yang sangat dalam, dalam hati kubertanya"Apa kesalahanku? sehingga kamu tidak mau menemuiku untuk terakhir kalinya. Aku tahu kamu sangat menghargai waktu. Tapi tak bisakah kau maafkan aku kali ini?". Bermacam ragam pertanyaan muncul dari sanubariku."There are your friends..." tiba-tiba salah sorang dari ke tujuh kawankutadi menunjuk ke arah pintu kaca itu. Dengan cepat aku melihat ke arahnya pintu yang dari tadi menjadi objek yang paling menarik perhatianku. Tepat sekali, disana ku lihat dia keluar dengan kawan yang selalu bersamanya selama disini. Aku mulai menghapus segala pertanyaan yang terbesit di dalam hatiku dari tadi, karena itu adalah kamu yang datang untuk menemuiku. Aku pamitan padakawan-kawanku tadi, "I'm so sorry, I have to met her..."."Ciiiieeeeeee" hanya itu yang ku dengar jawaban dari mereka sambil Aku berlalu meninggalkan kawan-kawanku itu bersama sahabatku.

To be continue...

Friday, April 17, 2009

Korban Tsunami Berbohong, Itu Salah Siapa.?


Masih igatkan tsunami tahun 2004 di aceh, masih donk..masak lupa sih. Musibah yang bisa dikatakan yang terbesar yang pernah melanda planet bumi ini di abad 20. Kenapa bisa dikatakan yang terbesar? coba liat ini, lebih dari 100.000 masyarakat aceh meninggal dunia, lebih dari satu juta orang aceh kehilangan tempat tinggal, lebih 200NGO dari berbagai negara ikut ambil bagian dalam membantu para korban tsunami ini, entah berapa triliun dana yang terkumpulkan untuk sumbangan kepada para korban baik selama masa darurat maupun masa rehabilitasi rekonsturksi dan masih banyak lagi hal-hal yang belum pernah terjadi pada musibah-musibah sebelumnya yang pernah melanda bumi ini muncul ketika tsunami.

Lantas apa hubungannya dengan judul di atas? (sepertinya ngak da hubungan ya..! hehehe). Ketika saya tulis “korban tsunami” sudah barang tentu punya hubunganya dengan bencana tsunami, tapi ketika pada kata selanjutnya “berbohong” mungkin Anda akan bertanya, apa sih yang mereka bohongi?

Begini ceritanya, beberapa hari yang lalu saya ikut dalam sebuah survey mengenai livelihod dan pendidikan yang di lakukan oleh sebuah NGO di 15 desa di dua kecamatan yang masih termasuk dalam kota Banda Aceh. Menurud saya, semua desa yang kami survey itu adalah desa yang terparah kena gelombang tsunami, karena semua desa tersebut berada di bibir pantai.

Hari pertama dan hari kedua surveynya berjalan seperti biasanya survey, dimana responden menjawab semua pertanyaan seperti apa yang terjadi sesungguhnya, baik pertanyaan yang menyangkut pribadi responden maupun pertanyaan yang menyangkut kejadian yang terjadi selama ini di masyarakat, karena dalam dua hari itu yang kami survey adalah masalah pendidikan. Tapi apa yang terjadi di hari ketiga dan hari-hari selanjutnya dimana objek yang kami survey adalah usaha kecil dan menengah, hampir 50% dari yang kami interview “bernyanyi” dengan kebohongan yang jelas-jelas kami tau itu bohong. Kebohongan mereka sangat jelas ketika kami sodorkan pertanyaan yang menyangkut dengan bantuan modal usaha yang pernah mereka dapat dari NGO maupun pemerintah. Dengan rasa yang menurud saya adalah rasa tidak takut akan dosa berbohong, mereka menjawab tidak pernah mendapat bantuan apapun, padahal ketika kami tanyakan kepeda pak geuchik gampong (kepala desa) malah ada dari mereka kata pak Geuchik, yang belum melunasi sedikitpun pinjaman bantuan modal usaha yang sudah mereka dapat. Ada juga dari mereka bilang tidak puas akan bantuan yang selama ini mereka terima. Apakah itu rumah, modal usaha dan lain sebagainya. Ada yang bilang” NGO pulan tidak adil, masak saya dikasih rumah tidak di kasih kasur, tidak dikasih alat dapur dan sebagainya”.


Saya yakin fenomena seperti ini bukan hanya terjadi di desa-desa di sekitaran Banda Aceh, tapi kejadian seperti ini juga terjadi di daerah-daerah lain yang terkena dampak tsunami. Namun, yang jadi pertanyaan selanjutnya adalah “ini salah siapa?”. Mengapa masyarakat Aceh yang penuh dengan moral islam bisa terkikis keislamannya karena masalah yang sepele yaitu masalah bantuan? Siapa yang bertangagungjawab atas kejadian yang seperti ini? Adakah pihak-pihak tertentu yang memang sengaja merancang sistem sedemikian rupa sehingga orang Aceh lupa akan jati diri? Atau memang masyarakatnya sendiri yang sudah jauh dari norma-norma agama?

Mungkin pertanyaan di atas sangat sulit untuk di jawab, tapi saya selaku orang Aceh melihat, mengapa kejadian seperti ini bisa terjadi pada orang Aceh? Itu semua disebabkan oleh banyak hal dan penyebabnya utama adalah kita orang aceh umumnya dan korban tsunami khusunya sudah di manjakan oleh berbagai bantuan, sehingga masyarakat sekarang malas untuk berusaha sendiri. Kita hari ini asyik duduk di rumah bantuan, nonton TV, sambil bertanya bantuan apa lagi yang akan datang hari ini? asyik duduk di keude kupi (kedai kopi), di pos jaga, gadoh balot rukok oen (asyik hisap rokok daun) poh cakra meusibak uroe(asyik ngomong aja sepanjanga hari) tanpa ada usaha untuk membuat diri lebih baik.

Tulisan ”jelek” ini saya buat karena saya miris melihat orang Aceh sekarang ini, dimana dari hari ke hari masyarakatnya bukannya tambah membangun malah saya melihat masyarakat Aceh sekarang semakin hilang jatidirinya sebagai orang Aceh. Mestinya musibah tsunami yang telah melanda Aceh dijadikan sebagai momentum untuk meg-introspeksi diri mungkin selama ini kita telah banyak berbuat dosa kepada Allah dan sekaligus sebagai penghapusan segala sifat congkak dan sombong yang megangap diri lebih baik dari orang lain.

Melalui tulisan “jelek” ini saya mengajak siapa saja yang masih mengaku dirinya sebagai orang Aceh, mari kita lakukan sesuatu untuk Aceh demi perubahan daerah kita ini di masa yang akan datang. Apalagi bagi mahasiswa seperti saya ini, jangan hanya berpikir kapan saya akan dapat beasiswa dari Aceh, tapi sesekali bertanyalah kapan kita selaku mahasiswa memberikan sesuatu untuk Aceh.

Akhir kata “Tetep semangat, tetep Usaha, Tetep bersama untuk Aceh yang lebik baik di masa yang akan datang”..Heheheh





Friday, January 16, 2009

Sekilas Tentang BJ. Habibie.

Siapa yang tak kenal sama nama yang satu ini. Walau banyak keputusan yang dia keluarkan waktu menjabat sebagai presiden Indonesia dianggap oleh berbagi pihak kontroversi, tapi bangsa Indonesia telah mencatat dialah anak bangsa ini yang bisa dibanggakan. Nah, untuk mengingatkan kita kembali akan jasa2 beliau untuk negara ini, disini sedikit saya posting tentang autobiography-nya yang saya kutip dari "tante" Wikipedia. Hehehe

Baharuddin Jusuf Habibie (lahir di Pare-Pare, Sulawesi Selatan, 25 Juni 1936; umur 72 tahun) adalah Presiden Republik Indonesia yang ketiga. Ia menggantikan Soeharto yang mengundurkan diri dari jabatan presiden pada tanggal 21 Mei 1998.

Habibie merupakan anak keempat dari delapan bersaudara, pasangan Alwi Abdul Jalil Habibie dan RA. Tuti Marini Puspowardojo. Habibie yang menikah dengan Hasri Ainun Habibie pada tanggal 12 Mei 1962 ini dikaruniai dua orang putra yaitu Ilham Akbar dan Thareq Kemal.

Baik Alwi Abdul Jalil Habibie maupun R.A.Tuti Marini Puspowardojo bukan kelahiran Sulawesi Selatan. Alwi Abdul Jalil Habibie lahir pada tanggal 17 Agustus 1908 di Gorontalo dan R.A.Tuti Marini Puspowardojo lahir di Yogyakarta 10 November 1911. Ibunya anak seorang spesialis mata di Yogya, ayahnya bernama Puspowardjojo bertugas sebagai pemilik sekolah. Ia bersaudara tujuh orang.


Beliau belajar teknik mesin di Institut Teknologi Bandung tahun 1954. Pada 1955-1965 dia melanjutkan studi teknik penerbangan, spesialisasi konstruksi pesawat terbang, di RWTH Aachen, Jerman Barat, menerima gelar diplom ingineur pada 1960 dan gelar doktor ingineur pada 1965 dengan predikat summa cum laude. Dia kemudian bekerja di Messerschmitt-Bölkow-Blohm di Hamburg, hingga mencapai puncak karir sebagai wakil presiden bidang teknologi. Pada 1973 kembali ke Indonesia atas permintaan mantan presiden Suharto.

Publikasi
  • Proceedings of the International Symposium on Aeronautical Science and Technology of Indonesia / B. J. Habibie; B. Laschka [Editors]. Indonesian Aeronautical and Astronautical Institute; Deutsche Gesellschaft für Luft- und Raumfahrt 1986
  • Eine Berechnungsmethode zum Voraussagen des Fortschritts von Rissen unter beliebigen Belastungen und Vergleiche mit entsprechenden Versuchsergebnissen, Presentasi pada Simposium DGLR di Baden-Baden,11-13 Oktober 1971
  • Beitrag zur Temperaturbeanspruchung der orthotropen Kragscheibe, Disertasi di RWTH Aachen, 1965
  • Sophisticated technologies : taking root in developing countries, International journal of technology management : IJTM. - Geneva-Aeroport : Inderscience Enterprises Ltd, 1990
    Einführung in die finite Elementen Methode,Teil 1, Hamburger Flugzeugbau GmbH, 1968
  • Entwicklung eines Verfahrens zur Bestimmung des Rißfortschritts in Schalenstrukturen, Hamburger Flugzeugbau GmbH, Messerschmitt-Bölkow-Blohm GmbH, 1970
  • Entwicklung eines Berechnungsverfahrens zur Bestimmung der Rißfortschrittsgeschwindigkeit an Schalenstrukturen aus A1-Legierungen und Titanium, Hamburger Flugzeugbau GmbH, Messerschmitt-Bölkow-Blohm GmbH, 1969
  • Detik-detik Yang Menentukan - Jalan Panjang Indonesia Menuju Demokrasi, 2006 (memoir mengenai peristiwa tahun 1998)

Friday, December 5, 2008

Autobiography Of Prof. Jonh Forbes Nash, Jr

Saya tidak tau sebelumnya Prof. Nash, siapa dia..? Setelah saya nonton Film Beautiful Mind, saya baru tau kalau knepa saya tertarik memposting tentang Prof. Nash.
Pernah ngak nonton film sese-bingung nonton film Beautiful mind, saya terusterang bingung pertama nonton film ini, apa maksudnya...? Ini sedikit history of Pro. Nash yang say ambil dari wikipedia.

Jonh Forbes Nash, Jr. (born june 13, 1928), is an American Mathematican And Economist whose works in game theory, diferential geometry, and partila diferential equations provided a basis for successive reserch across of disciplines and mathematical in sight into the forces that govern chance and events inside complex system in daily life; his theoies are still used today in market economics, computing, accaounting and military theory.

Serving as a Senior Research Mathematician at Princenton University for the latter part of his life he shared the 1994 Nobel Memorial Prize in Economic Sciences whit game theorists Reinhard Selten aand Jonh Harsanyi.

Nash was born and raised in Bluefield, West Virginia. He was born to electrical engineer John Forbes Nash and his wife Margaret Virginia Martin, an English and Latin teacher. On November 16, 1930 his sister Martha Nash was born. He was an avid reader of Compton’s Pictures Encyclopedia, Life Magazine, and Time Magazine. Later he had a job at the Bluefield Daily Telegraph.

At the age of twelve, he carried out scientific experiments in his room. At a young age, he already preferred to work alone. He returned the social rejection of his classmates with practical jokes and intellectual superiority, believing their dances and sports to be a distraction from his experiments and studies.

Martha, his younger sister, wrote about him that "Johnny was always different. My parents knew he was different. And they knew he was bright. He always wanted to do things his way. Mother insisted I do things for him, that I include him in my friendships... but I wasn't too keen on showing off my somewhat odd brother.

In his autobiography, Nash notes that it was E.T.Bell's book, Men of Mathematics-in particular, the essay on Fermat—that first sparked his interest in mathematics. He attended classes at Bluefield College while still in high school at Bluefield High School. He later attended the Carnegie Institute Of Technology (now Carnegie Mellon University) in Pittsburgh, Pennsylvania on a Westinghouse scholarship, where he studied first chemical engineering and later chemistry before switching to mathematics. He received both his bachelor's degree and his master's degree in 1948 while at Carnegie Tech.

Nash also created two popular games: Hex in 1947 (independently created first in 1942 by Piet Hein), and So Long Sucker in 1950 with M.Housner and Lloyd S.Shapley.

After graduation, Nash took a summer job in White Oak, Maryland, working on a Navy research project being run by Clifford Truesdell.

Sumber dari :http://en.wikipedia.org